Growing Pain (tumbuh tapi menyakitkan)

tanpa mengubah judul dan mengurangi isi izinkan sy merepost dari milis tetangga kali aja guna dikit gituuūüėÄ

Growing Pain

(Tumbuh tetapi Menyakitkan)

Tahun 1993, saya membangun kembali usaha kecil Almarhum Ibu yang sudah dimatikan, dengan modal Rp 7.5 juta yang saya sisihkan dari gaji. Dimulai di bekas bengkel las kotor, dengan satu mixer kecil, selain itu semua pekerjaan dilakukan dengan tangan.

Melalui berbagai kendala dan kerja keras, karyawan bertambah menjadi 20 orang. Suatu saat di tahun 1995, Tim salesman  memanipulasi sehingga semua piutangnya fiktif, retur ditukar dengan barang baru, anggaran bensin dimanipulasi, dsbnya. Manipulasi dan penipuan tipikal salesman. Perusahaan praktis bangkrut.

Pembenahan dilakukan kembali dari awal, modal kecil disuntikkan lagi. Usaha dibangun kembali dari reruntuhan.

Tahun 1997, pabrik I dibangun.  Dengan susah payah, kita mulai modernisasi. Mulai dipasang Brand, management modern diterapkan, proses produksi yang baik dilaksanakan.

Walaupun saat awal itu kondisi Perusahaan masih sangat buruk,  kita masih bisa memperoleh production spv bergelar S1 dari Institut Pertanian Terkenal. Anak-anak IPT itu masih mau memulai bekerja di UKM, sekarang sama sekali tidak.

Sayangnya, turn-over cukup tinggi karena di UKM apalagi start-up, orang melihat Perusahaan tidak memiliki harapan, tidak menjanjikan, tidak prospektif, tidak gaya, tidak ngejreng, tidak branded, sementara tuntutannya berat.

Supervisor dan management, sering berbisik-bisik :  Kita Cuma numpang hidup. Artinya, memang tekad mereka mencari pekerjaan lain nantinya di tempat yang lebih baik.

Saya mengerti bahwa kerja di Perusahaan yang entreprenurial adalah hidup spartan,  menuntut kerja keras luarbiasa karena  pekerjaan banyak, tantangan banyak, jumlah karyawan management sedikit, karyawan produksinya bandel-bandel, proses produksi rumit sekali, dll.

Semangat spartan, pengorbanan jangka pendek untuk masa depan yang lebih baik sering dijejalkan agar karyawan mau bermotivasi bersama-sama berkorban gengsi agar kita maju.  Bukan pengorbanan material, karena gaji diberi cukup kompetitif.  Karena kuatnya sikap mental pekerja, karyawan sulit menerima kebutuhan sikap wiraswasta, yaitu harus mengambil risiko dan berkorban. Maunya aman saja.

Akhirnya, karena pressure yang makin tinggi, masalah-masalah mulai muncul, yang diakibatkan karena banyak orang tidak mau memberi, karena kurang perduli, karena kurang kapabel, dsbnya. Turn-over makin menjadi. Buah simalakama. Bukan saya tidak mengerti masalah ini, tetapi tipikal perusahaan kecil yang tumbuh, management madya yang bagus unaffordable (Perusahaan ngga punya duit) atau mereka tidak mau bergabung bersama kita.

Target untuk berprestasi, Target produksi makin baik makin tinggi, akhirnya malahan membuat perusahaan tertatih-tatih tumbuhnya karena manajemen keluar masuk diawali oleh pressure yang makin tinggi, sementara karyawan tidak mampu mengatasinya.

Walaupun demikian, ditengah masalah seperti itu, Perusahaan konsisten tumbuh 25% pertahun selama belasan tahun sejak berdirinya.  Orang-orang lain bilang hebat.  Saya tahu kita bisa tumbuh lebih cepat lagi, tetapi SDM tidak mampu menanggung bebannya.

Dalam belasan tahun, sambil berjalan,  aturan main, aturan kerja, job-description, kebiasaan, prosedur, SOP, what-ever you name it, disusun dan dipasang, kalau saya pribadi tidak mengerti membuatnya, konsultan kita panggil.

Komitmen karyawan untuk menerapkan hanya hangat-hangat tahi ayam. Dilaksanakan sebentar, lalu para pelaksana dari karyawan produksi, operator, clerk, supervisor, tim akunting, dll. bahkan manajemenpun  mulai melenceng.  Tidak konsisten. Proses melenceng lambat tapi pasti, tidak ada kesungguhan dan komitmen melaksanakan SOP atau peraturan secara teguh dan patuh.

Orang dengan mudah melenceng dari kebiasaan baik, lupa dan tidak perduli.  Orang baru masuk, orang lama tidak perduli mengajari mereka. Kita serasa seperti undur-undur. Belajar lagi dari kesalahan yang sama, berulang-ulang.

Operator, pelaksana, semaunya cenderung melenceng dan  berubah.

Supervisor yang seharusnya mengawasi, membiarkan perubahan dan pelanggaran dari prosedur kerja, dari aturan, dari SOP tanpa perduli.

Manager, we had them before, sami mawon. Ada tapi tiada.

Hasilnya, berbagai maju-mundur, penyelewengan, pencurian, kerugian yang disengaja ataupun tidak, dll terjadi berulang-ulang.  Kerugian keuangan tidak usah disebut lagi.

Nah inilah warisan masalah yang bapak/ibu miliki sekarang.  Perusahaan growing, Perusahaan profitable, tapi growing with very painful untuk saya si entrepreneur sendirian.

Kalau saja, ada jenis orang mau membagi hidupnya, mendampingi, dan berbagi beban, sayang kepada perusahaan ini, jujur saja shareholder Perusahaan mau dan akan berbagi. Dari dulu saya berpendapat seperti itu, sampai hari ini Orang Seperti Itu belum pernah kami ketemukan.

Sayang sekali, sebagian besar orang hanya berpandangan mereka adalah pekerja, mereka membatasi diri, tidak mau memberi lebih, menanggung dan berbagi beban dan bertindak seperti Perusahaan ini milik dia sendiri.

Akibatnya sulit untuk keduanya;  Perusahaan tumbuh lambat dengan segala kesulitan dan beban, maju mundur berulang-ulang, sementara tanggungjawab untuk meluruskan jatuh kepada pimpinan tertinggi sendirian. Dan akhirnya, Karyawan juga hanya menjadi karyawan sejati saja. Tentunya sulit sekali karyawan seperti ini menjadi kaya dan sangat sejahtera.

Hubungan kerja dengan motivasi Saya beri waktu dan pikiran saya karena anda membayar saya,  itu tidak cukup untuk sebuah perusahaan entrepreneurial seperti Perusahaan. Terutama pada posisi pimpinan.

Cara yang terbaik dan akan membawa sukses bagi keduanya adalah berpandangan bahwa Saya menyayangi perusahaan ini seperti milik sendiri. Karena itu saya bekerja disini. Sikap ini mampu mengatasi hampir semua masalah.

Pak Ibrahim Risyad, suatu hari berkata kepada Jun Urmeneta, expatriate Filipinos, dia bilang:  Jun,  do you know why I am so rich now ?  Because I worked with Oom Lim Sioe Liong, not worked for him.

Pak Ibrahim karyawan si Oom Liem, dari awal menempatkan diri dan fikirannya sebagai rekan kerja, bekerja bersama-sama, dia memberi kasih-sayang kepada Perusahaan, seolah sebagai pemilik Perusahaan itu sendiri, padahal saat itu belum. Akhirnya sejarah membuktikan, dia menjadi pemilik.

Itulah kisah sukses Salim Group, karena orang mau growing in pain, sharing the pain. Akhirnya beban berat itu, bisa ditanggung bersama, lebih ringan, dan perusahaan maju ke depan.

Kalau kita sendiri-sendiri, egois, EGP, ini persis resep kegagalan.

Saya tidak bermaksud menggurui, tapi please learn from Our History.  Saya tidak ingin mengulangi kegagalan dulu dengan Tim Baru ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: