November 16, 2009 by ichwann

kalian semua benar, gw yang salah
pendapat gw gak pernah bener, gag pernah di denger selalu keblinger
hidup gw berasa terisi hal-hal ga penting, omongan gw pun kebanyakan ga

penting, gw bingung nih,,,
hampa tapi kok ga berasa,,,
sempet berasa hidup gw nih untuk apa yah,,,
banyak hal ga penting  yang mampir di hidup gw,,,, gw bingung gimana

lagi ngisi waktu2 biar produktif

bangun pagi ini berasa hampa, telat subuh, lonely, dan bingun,
ditambah gada balesan massage dr MyL,,, i got d problm last night,,,
dan pagi ini dy OL, nampaknya lg ga enak badan, dan gw jadi sungkan

untuk mnyelesaikan mslh2 gw smlm,,,
aihh,,, trs gw msti ngapain dong,,, smpet bljr td sblm nulis ini,,
tapi ga bgitu konsen,,, knapa slalu kepikir hal ga penting lg,,,
anjirrr,,, pengen tereak gw, tp malu,,nulis ky gini pun gw malu
pagi ini gw kehilangan arah tujuan hidup,,,, damn!!

PENGUKUR KECEPATAN MENGGUNAKAN SENSOR INFRARED DAN TEGANGAN dg ADC (Bab 4 & 5)

October 29, 2009 by ichwann

BAB IV

PENGUJIAN DAN ANALISIS SISTEM

4.1 Prinsip kerja

4.1.1 Pengukur Kecepatan

Alat pengukur kecepatan benda bergerak ini bekerja berdasarkan respon sensor yang kami hubungkan ke mikro. Sensor yang kami pakai berupa transmitter dan receiver infrared sebanyak dua pasang. Transmitter yang kami gunakan berupa LED yang memancarkan sinar infrared sedangkan receiver yang kami gunakan adalah photo dioda.

Sensor ini bekerja berdasarkan tegangan output yang dihasilkan receiver infrared. Ketika receiver menerima sinar infrared dari transmitter, tegangan output pada receiver adalah rendah yaitu sekitar 0.85 V dan kami beri logic low pada mikro. Lalu ketika receiver tidak menerima sinar infrared maka tegangan outputnya menjadi sekitar 4.3 V dan kami beri logic high pada mikro. Tegangan output kami ukur antara katoda dan anoda receiver.

Alat ini bekerja berdasarkan menerima dan tidaknya receiver infrared. Pada Atmega16 terdapat 3 buah eksternal interrupt, kami menggunakan dua eksternal interrupt yaitu INT0 dan INT1. Masing-masing interrupt kami hubungkan dengan masing-masing sensor. Inisialisasi awal pada sensor adalah logic low pada eksternal interrupt yaitu ketika sensor menerima sinar infrared. Eksternal interrupt kami setting rising edge yaitu program yang ada pada eksternal interrupt akan dieksekusi jika eksternal interrupt mengalami penaikan logic dari ’0’ ke ’1’ yang sebelumnya kami memberi logic ’0’ jika sensor menerima sinar infrared dan logic ’1’ jika sensor tidak menerima sinar infrared.

INT0 kami pasang didepan yaitu tempat awal dilaluinya benda, dan INT1 kami pasang di belakang. Program pada INT0 merupakan trigger untuk mengeksekusi atau menghidupkan timer yaitu untuk menghitung waktu yang ditempuh benda bergerak sampai jarak yang telah ditentukan, cara kerjanya adalah dengan increment terus menerus sampai overflow. Dalam perhitungan, 1 second didapat dari jumlah overflow dibagi 5400. Pada INT1 kami program untuk mematikan timer dan mengolah data yang didapat dan kemudian ditampilkan ke LCD. Kecepatan didapat dari jarak dibagi waktu, jaraknya telah kami tentukan yaitu sepanjang 15 cm pada papan yang telah kami buat untuk simulasi sedangkan waktu didapat dari timer yang disetting pada eksternal interrupt tadi.

Jadi ketika benda memasuki area pencatatan kecepatan, benda akan melalui sensor pertama kemudian INT0 aktif dan mulai menghitung waktu yang dilalui benda hingga sensor yang kedua dilalui. Ketika sensor yang kedua dilalui INT1 aktif dan timer off kemudian mikro langsung mengolah data lalu ditampilkan ke LCD.

4.1.2 Pengukur Tegangan

Tegangan merupakan besaran analog, agar dapat diolah maka harus dikonversi kedalam binary digit (bit). Untuk mengubahnya, kami menggunakan ADC (analog to digital converter) pada mikro Atmega 16. Seperti yang dijelaskan pada bab 2.2 pada mikro AVR Atmega16 terdapat port-port yang dapat menerima besaran analog yang dapat diconvert kedalam besaran digital, yaitu ADC (Analog to Digital Converter). Port tersebut terdapat pada PORTA (PA.0 .. PA.7) yaitu ADC0..ADC7. Pada alat yang kami buat, kami hanya menggunakan ADC0 karena kami gunakan hanya untuk mengukur tegangan. Alat ukur tegangan ini hanya mampu menerima tegangan maksimal sebesar 25 Volt DC.

Seperti yang telah dijelaskan pada dasar teori, chip tersebut hanya mampu menerima tegangan maksimal sebesar 5 volt, untuk dapat menerima tegangan maksimal 25 volt kami membuat lagi rangkaian tambahan yang dihubungkan dengan mikro tersebut. Rangkaian tersebut kami buat menjadi pembagi tegangan, sehingga bisa menerima tegangan maksimal sebesar 25 volt, sebenarnya kami bisa membuatnya menjadi 100 volt tapi kami tidak mempunyai sumber tegangan sebesar itu untuk melakukan pengambilan data. Tegangan yang diterima rangkaian akan terbagi ke masing -,masing resistor sehingga tegangan input maksimal yang masuk ke dalam mikro hanya sebesar 5 volt. Besaran tersebut lalu diolah diprogram yang kami buat, dapat dilihat source code – nya pada lampiran, setelah diolah kemudian ditampilakan di LCD dalam bentuk desimal.

4.1 Pengujian Alat

4.1.1 Pengukur Kecepatan

Kami memeriksa kebenaran dan keakuratan data. Nilai kecepatan yang dihasilkan dibandingkan dengan perhitungan yang kami lakukan secara manual dengan stopwach.

Data percobaan

s = 15 cm

No t (terukur) (s) t (stopwatch) (s) v (cm/s) Error pada t(%)
1 0.7005 0.70 21.411 0.07
2 1.4383 1.44 10.428 0.12
3 2.2899 2.29 6.55 0.004
4 2.8874 2.89 5.194 0.09
5 3.1364 3.12 4.783 0.53
6 3.7772 3.78 3.971 0.074
7 4.1212 4.13 3.639 0.21
8 4.3774 4.35 3.426 0.63
9 4.5399 4.52 3.303 0.44
10 5.3794 5.35 2.788 0.55

Analisis

Alat yang kami buat memiliki ketelitian yang cukup akurat dalam perhitungan waktu, karena kami memakai kristal sebesar 11.0592 MHz yang memeiliki ketelitian tinggi. Kesulitan dalam percobaan ini adalah perhitungan manual dalam pencatatan waktu dengan stopwatch karena sangat sulit untuk menyamai kecepatan sensor ketika clock mulai berjalan dengan kecepatan tangan ketika memencet tombol stopwatch. Selain itu kami juga hanya memakai referensi pengukur waktu dengan stopwatch dan tidak tahu seberapa teliti stopwatch tersebut.

4.1.1 Pengukur Tegangan

Kami melakukan percobaan dengan mengukur beberapa sumber tegangan kemudian kami bandingkan dengan multimeter digital Heles UX35 sebagai referensi pengukur tegangan.

Data Percobaan

No V (terukur) (V) V (multimeter) (V) Error (%)
1 1.259 1.28 1.64
2 2.543 2.53 0.51
3 2.899 2.89 0.31
4 4.159 4.14 0.46
5 4.349 4.35 0.02
6 5.181 5.17 0.21
7 5.442 5.44 0.037
8 6.464 6.42 0.68
9 7.938 7.93 0.1
10 10.814 10.81 0.037

Analisis

Alat pengukur tegangan yang kami buat mampu mengukur tegangan hingga 25 volt DC. Dari hasil percobaan, kami menyimpulkan bahwa alat kami memiliki ketelitian yang cukup bagus.

Penyebab error tersebut adalah kami belum menemukan cara yang sangat pas dalam perhitungan didalam program yang kami buat sehingga tegangan yang terukur dibanding dengan multimeter berbeda.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  • Ilmu kendali dan instrumentasi sangat berperan pada perancangan alat-alat ukur.
  • Mikrokontroler berfungsi sebagai prosesor dengan harga yang relatif terjangkau.
  • Kecepatan bisa diukur dengan beberapa cara yang berbeda.
  • Alat ini bisa dikomersialisasi dengan beberapa peningkatan mutu.

5.2 Saran

  • Ada follow up dari pembuatan alat ini, sehingga bisa dikomersialisasi.
  • Mikrokontroler merupakan perangkat serba guna yang relatif murah dan mudah digunakan

DAFTAR PUSTAKA

Wardhana, Lingga. 2006. Belajar Sendiri Mikrokontroler AVR Seri ATMega8535. Penerbit ANDI: Yogyakarta.

Setiawan, Agfa Prayoga. 2006. Pengenalan Mikrokontroler Atmel Jenis AVR.

http://en.wikipedia.org

http://www.edaboard.com

http://www.atmel.com

http://www.datasheetcatalog.com

http://www.google.com

 

 

PENGUKUR KECEPATAN MENGGUNAKAN SENSOR INFRARED DAN TEGANGAN dg ADC (Bab 3)

October 29, 2009 by ichwann

BAB III

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM

3.1 Konsep Perancangan Alat

Untuk mendapatkan nilai Δx dibutuhkan sensor untuk mengetahui jarak. Karena dibutuhkan waktu tempuh Δx selama Δt dan penghitungan kecepatan, maka dibutuhkan suatu perangkat kendali. Akhirnya, kami memutuskan untuk memakai Atmel AVR ATMega 16.

Kami membuat dua macam rancangan untuk mendapatkan data jarak dan waktu.

gbr1

gbr2

s merupakan konstanta, karena s merupakan jarak antara 2 sensor. Sehingga, hanya dibutuhkan timer pada mikrokontroler untuk menghitung t.

Kedua rancangan di atas membutuhkan sensor dan receiver yang tergabung dalam satu modul. Ini menjadi hambatan kami, karena harga sensor dan receiver yang ada di pasaran berkisar antara Rp 200.000 sampai Rp 400.000. Maka, kami memakai rancangan kedua dengan sedikit perubahan.

gbr3

Harga LED dan receiver total hanya menghabiskan Rp 15.000. Output berupa nilai kecepatan ditampilkan pada LCD.

3.1 Dokumentasi pembuatan alat

Tahap 1

Untuk menjalankan alat yang kami buat, kami menggunakan microchip AVR ATMEGA16. alasan menggunakannya adalah lebih memudahkan dalam memprogram dengan bahasa c. Tahap awal ini kami mencari info tentang AVR beserta sisminnya dan segala hal yang dibutuhkan dalam proses kerja AVR ini. Kemudian kami mempelajari lagi tentang AVR beserta cara memprogramnya. Tahap ini memakan waktu sekitar seminggu.

Tahap 2

Setelah segala info kami dapat, kami langsung mencoba membeli segala komponen untuk membuat alat ini. Kemudian kami membuat sistem minimum dan alat untuk mendownload program ke mikro, pengerjaan ini memakan waktu sekitar seminggu sampai finishing hanya untuk sismin dan downloadernya saja.

Tahap 4

Setelah sismin selesai dibuat kami langsung membuat alat pengukur tersebut, awalnya kami langsung ingin membuat sesuai rangkaian yang kami dapat, tetapi sangat menyita waktu jika dikerjakan. Kemudian kami merubah rangkaian menjadi lebih sederhana dan dengan konsep yang berbeda juga. Pengerjaan untuk konsep ini memakan waktu sekitar 4 hari.

Tahap 5

Langkah selanjutnya kami mencari info lagi tentang konsep pemrograman ke para kru. Setelah itu kami mencoba untuk memprogram ke mikro. Pengerjaan ini memakan waktu sekitar 4 hari.

Tahap 6

Kemudian kami merealisasikan konsep alat yang telah kami diskusikan sebelumnya dalam bentuk hardware. Pengerjaan alat ini memakan waktu 2 hari.

Tahap 7

Setelah alat selesai dibuat kami langsung mencoba merangkaikan ke mikro dan mencoba mendownload program yang telah kami buat sebelumnya. Pada tahap ini kami juga mencoba pengetesan mengukur benda yang bergerak. Banyak masalah yang terjadi, khususnya pada program yang kami buat karena tidak sesuai yang diharapkan. Kami menghabiskan waktu 3-4 hari untuk menyelesaikan masalah kami.

Tahap 8

Tahap ini adalah tahap pengujian terhadap alat yang kami buat. Setelah sukses menguji alat tersebut kami langsung finishing secara keseluruhan. Kami memakan waktu sekitar 3 hari.

3.2 Pembagian Kerja

1. A Syarief : Sebagai pencetus ide dan pencari info.

2. Fela Rizki : Sebagai pemrogram dan pencari info.

3. A. Ichwan : Sebagai pembuat hardware dan finishing.

Kritik Ideologi ala Marxisme

May 25, 2009 by ichwann

Abstraksi

Teori Kritis sebagai salah satu aliran Filsafat Abad XX, pada awalnya belum berhasil menarik perhatian di kalangan Filsafat Umum. Teori Kritis ini baru betul-betul menjadi bahan diskusi di kalangan Filsafat dan Sosiologi pada tahun 1961 dan tentu Jurgen Habermas memainkan peranan yang besar di dalamnya bahkan tokoh inilah yang membuat Teori Kritis itu membetot perhatian di kalangan filsuf-filsuf konteporer.

Kalau kita ingin menentukan kedudukan Teori Kritis dalam rangka Sejarah Filsafat khususnya dan Filsafat pada umumnya, maka terutama tiga factor harus dikemukakan, yakni Teori Kritis yang secara khusus dipengaruhi oleh Hegel, Marx, dan Freud. Yang dikenal agak umum adalah peranan Filsafat Karl Marx dalam pemikiran para anggota Mazhab Frankfurt termasuk Habermas sampa-sampai ajaran mereka tidak jarang ditunjukkan dengan nama “neomarxisme”.  Cara dan ciri pemikiran aliran Frankfurt disebut ciri teori kritik masyarakat “eine Kritische Theorie der Gesselschaft”. Teori ini mau mencoba memperbaharui dan merekonstruksi teori yang membebaskan manusia dari manipulasi teknokrasi modern. Ciri khas dari teori kritik masyarakat adalah bahwa teori tersebut bertitik tolak dari inspirasi pemikiran sosial Karl Marx, tapi juga sekaligus melampaui bangunan ideologis marxisme bahkan meninggalkan beberapa tema pokok Marx dan menghadapi masalah masyarakat industri maju secara baru dan kreatif.

ISI

Di kalangan ahli-ahli sains sosial, perdebatan utama yang sering berlaku ialah menyentuh mengenai falsafah kaedah sains sosial. Perbagai sudut dipertengahkan bagi mencari jalan mewujudkan satu kaedah sains sosial yang benar-benar dapat menghasilkan pengetahuan sebenarnya. Atas kejayaan kaedah sains semula jadi, ahli-ahli sains sosial coba mengamalkan konsep kaedah tersebut ke dalam penyelidikan sosial. Kesannya sungguh hebat, ahli-ahli sains sosial mendapati aplikasi konsep kaedah sains semula jadi mampu menyingkap fenomena manusia. Seterusnya, bidang sains sosial berkembang dengan pesat sehingga menjadi sebagai unsur penjelasan segala fenomena manusia.

Manusia di dalam masyarakat sekarang telah mengalami kemajuan yang begitu pesat. Modernisasi manusia tidak dapat dielakkan. Manusia dalam titik kemajuan modernisasi telah dihantar pada sebuah situasi yang begitu krusial. Modernisasi telah membawa manusia pada kemajuan teknologi yang begitu pesat. Teknologi moden sudah menjadi alat perpanjangan tangan manusia. Manusia semakin mudah oleh sarana-sarana teknologi yang sedia ada.

Modernisasi, komunikasi dan teknologi moden telah melahirkan kisah kebebasan beragama, kemajuan pengangkutan, perkembangan teknologi informasi, komuniti melting pot, dan banyak lagi. Teknologi, komunikasi dan modernisasi telah mencanangkan janji dan ideologi kehidupan manusia yang lebih baik dan membuat manusia semakin bijak, lebih bahagia dan sebagainya.  Perkataan kritikal mempunyai makna yang agak konotatif. Kita akan membayangkan orang yang bersifat kritikal itu adalah orang yang selalu menentang atau mencabar suatu tindakan atau keputusan yang dianggap sebagai tidak adil. Pendekatan ini muncul sebagai respons kepada isu-isu kuasa yang terkandung dalam sistem kapitalis.

Penyalahgunaan kuasa oleh pemilik perniagaan seperti bayaran gaji atau upah yang rendah, keadaan tempat kerja yang tidak memuaskan, buruh kanak-kanak, kebajikan pekerja yang diabaikan, diskriminasi terhadap pekerja asing dan wanita dan berbagai-bagai lagi telah berleluasa di Eropah semasa zaman Victorian (Mead, 1991). Situasi eksploitasi kapitalisme yang semakin teruk ini telah menyebabkan kemunculan teori kritikal (Ishak Abd Hamid, 2000). Sejarah ilmu pengetahuan pada umumnya, dan falsafah pada khususnya telah membuat catatan bahawa teori kritikal yang berpaksikan para intelektual Sekolah Frankfurt Jerman telah memberikan sumbangan yang cukup memadai dalam meninjau dan memahami konsep modernisasi manusia. Setelah melalui perkembangan yang memberangsangkan dengan pengikut-pengikutnya tersendiri, kini sudah wujud tiga teori penyelidikan sains sosial  yaitu teori positivisme, interpretivisme dan kritikal (Bredo dan Feinberg, 1982). Ketiga-tiga teori ini bergerak atas premis yang berbeda-beda. Apa yang menarik, ketiga-tiga teori ini mempunyai pengikut-pengikut kuatnya dalam ilmu sains sosial. Masing-masing mempunyai hujah-hujah yang tersendiri.

Meskipun terdapat beberapa jenis ilmu sosial kritikal, semuanya memiliki tiga kesimpulan dasar yang sama. Pertama, semuanya menggunakan prinsip-prinsip dasar ilmu sosial interpretif, yaitu para ilmuwan kritikal menganggap perlu untuk memahami pengalaman orang dalam konteks. Secara khususnya pendekatan kritikal bertujuan untuk menginterprestasikan dan karenanya memahami bagaimana pelbagai kelompok sosial dikekang dan ditindas. Kedua, pendekatan ini mengkaji keadaan sosial dalam usahanya untuk mengungkap struktur-struktur yang tersembunyi. Kebanyakan teori kritikal mengajar bahawa pengetahuan adalah kekuatan untuk memahami bagaimana seseorang ditindas sehingga orang dapat mengambil tindakan untuk merubah kekuatan penindas. Ketiga, pendekatan kritikal secara sadar berupaya untuk menggabungkan antara teori dan tindakan. Teori tersebut jelas normatif dan bertindak untuk mencapai perubahan dalam berbagai keadaan yang mempengaruhi kita.(S. Djuarsa Senjaja, PHD 2005)

Dengan hadirnya Max Horkheimer, Theodor. W. Adorno, Herbert Marcuse, Jurgen Habermas dan kawan-kawannya telah memberikan nafas baru dengan kebijakan yang kritikal atas seluruh fenomena modernisasi yang menjanjikan tapi jika tidak berhati-hati akan menyebabkan terjerumus. Falsafah dan ilmu sosial abad XX diwarnai oleh empat pemikiran besar yaitu fenomenologi-eksistensialisme, Neo-Thomisme, Falsafah Analitis dan aliran Neo Marxis (yang sering membuat akuan dirinya sebagai pewaris tradisi Marxisme yang disesuaikan dengan keadaan zaman). Teori kritikal, secara klasifikatif, dapat digolongkan pada kumpulan yang terakhir. Meski pun dalam perdebatan filosofis, ada yang menganggap bahawa teori kritikal adalah teori yang bukan marxis lagi.

Menurut Katherine Miller (2005), di dalam tradisi teori kritikal merasakan suatu tanggungjawab tetapi tidak mudah menggambarkan di dalam dunia masyarakat (meskipun mereka mahu melihat gambaran itu merupakan satu langkah pertama yang penting di dalam proses teoritikal) tetapi untuk bekerja sebagai agen yang aktif di dalam perubahan yang radikal di dalam masyarakat.

Teori Marxist

Teori ini dikemukakan oleh Karl Marx (1818-1883). Idea dasar daripada teori ini adalah penentangan terhadap adanya sistem hirarki kelas, karena ianya adalah penyebab yang paling utama didalam sosial problem dan ianya mesti diakhiri oleh revolusi proletariat (buruh). Dengan lain perkataan, boleh dijelaskan bahawa Marx mencoba mencari kesamarataan, yaitu kesamarataan antara kaum borjuis (golongan ekonomi kelas atas) dengan kaum buruh / pekerja (golongan ekonomi kelas rendah). Marx menganggap selama ini golongan pekerja atau kaum buruh telah ditindas oleh kaum elit, sehingga perlu diadakan sebuah evolusi secara drastis.

Walaupun teori kritikal telah berkembang setelah kemunculan Marx, kebanyakan daripada asasnya adalah tetap berdasarkan Marxist. Malahan, salah satu dari intelektual yang terpenting dalam kurun ke 20 adalah teori sosial yang berasaskan Marxist. Ide ini berasal dari Karl Marx dan Friedrich Engels, pergerakan ini mengandungi beberapa teori yang saling berhubungan untuk mengatasi arahan masyarakat yang dominan. Secara amnya, kesemua cabang sains sosial termasuk komunikasi telah dipengaruhi oleh aliran pemikiran ini. Marx berpendapat bahawa makna sesuatu produk dalam masyarakat menunjukkan sifat semulajadi masyarakat tersebut. Ini merupakan asas ide Marxism, asas megastruktur perhubungan. Ekonomi merupakan asas bagi semua struktur sosial. Dalam sistem kapitalis, keuntungan dapat memacu pengeluaran dan akhirnya mendominasikan para pekerja. (Stephen W. Littlejohn 2002).

Pendekatan kritikal dalam komunikasi keorganisasian juga berakar umbi daripada falsafah Marxist yang mengkaji hubungan antara pemilik perniagaan dan pekerja-pekerjanya dalam masyarakat kapitalis. Marx mendapati ketidakseimbangan yang wujud didalam hubungan tersebut akan menyebabkan pekerja-pekerja bangkit untuk menentang sistem kapitalis. Marx percaya kritikan akan mencetus revolusi karena ia akan mendedahkan kebenaran mengenai keadaan sosial manusia.

Pengaruh Marx adalah lebih meluas dalam bidang politik. Pendapatnya telah disokong oleh ramai ahli akademik seperti Max orkheimer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse dan Jurgen Habermas yang telah mengkaji sifat masyarakat kapitalis. Pengkaji-pengkaji teori kritikal telah bersetuju dengan isu-isu berikut :

  • Struktur dan proses tertentu dalam masyarakat akan menjurus kepada kuasa yang tidak seimbang
  • Kuasa yang tidak seimbang akan menyebabkan tekanan dan pengasingan kumpulan dan kelas tertentu dalam masyarakat.
  • Peranan pengkaji-pengkaji teori kritikal ialah meneroka dan mendedakan ketidakseimbangan ini dan membawanya kepada pengetahuan kumpulan-kumpulan yang teraniaya. Ini akan membolehkan emansipasi atau pembebasan atau pembelaan kumpulan yang teraniaya itu melalui tindakan politik atau melalui kesedaran individu-individu itu sendiri. (Ishak Abd Hamid 2000)

Neomarxist
Menurut Baran & Davis (2000) Neo-Marxism adalah sebuah aliran yang berkembang di abad ke 20 yang mengingatkan kepada awal tulisan Marx sebelum dipengaruhi oleh Engels. Aliran ini memusat pada idealisme dialektika dibanding fahaman materialisme dialektika yang menolak determinisme ekonomi awal Marx. Fahaman Neomarxist tidak mengamalkan perubahan secara evolusi. Menurut teori ini, transformasi boleh berlaku secara perlahan. Fahaman neomarxist memusatkan pada suatu revolusi psikologis bukan fizik, yang bermakna bahawa perubahan idea yang datang dari jiwa seseorang lebih penting daripada perubahan secara fisik.

Neo Marxisme adalah aliran pemikiran Marx yang menolak penyempitan dan reduksi ajaran Karl Marx oleh Engels. Ajaran Marx yang dicoba diinterpretasikan oleh Engels ini adalah bentuk interpretasi yang kemudiannya dikenali sebagai “Marxisme” rasmi. Marxisme Engels ini adalah versi interpretasi yang digunakan oleh Lenin. Interpretasi Lenin nanti pada akhirnya berkembang menjadi Marxisme-Leninisme (atau yang lebih dikenal dengan Komunisme). Beberapa tokoh neomarxisme pada akhirnya menolak marxisme-leninisme. Mereka menolak interpretasi Engels dan Lenin karena interpretasi tersebut adalah interpretasi ajaran Marx yang menghilangkan dimensi dialektika ala Karl Marx yang dipercaya sebagai salah satu bagian inti dari pemikiran Karl Marx. Tokoh neomarxisme adalah Georg Lukacs dan Karl Korsch, Ernst Bloch, Leszek Kolakowski dan Adam Schaff.

Salah satu aliran pemikiran Kiri Baru yang cukup ternama adalah pemikiran Sekolah Frankfurt. Institut penelitian sosial di Frankfurt (Institut für Sozialforschung) didirikan pada tahun 1923 oleh seorang kapitalis yang bernama Herman Weil, seorang pedagang grosir gandum, yang pada akhir hayat “mencoba untuk cuci dosa” mau melakukan sesuatu untuk mengurangi penderitaan di dunia (termasuk dalam skala mikro: penderitaan sosial dari kerakusan kapitalisme).

Secara historis, berbicara tentang teori kritis tidak bisa lepas dari Madzhab Frankfurt. Dengan kata lain, teori kritis merupakan produk dari institute penelitian sosial, Universitas Frankfurt Jerman yang digawangi oleh kalangan neo-marxis Jerman. Teori Kritis menjadi disputasi publik di kalangan filsafat sosial dan sosiologi pada tahun 1961. Konfrontasi intelektual yang cukup terkenal adalah perdebatan epistemologi sosial antara Adorno (kubu Sekolah Frankfurt – paradigma kritis) dengan Karl Popper (kubu Sekolah Wina – paradigma neo positivisme/neo kantian). Konfrontasi berlanjut antara Hans Albert (kubu Popper) dengan Jürgen Habermas (kubu Adorno). Perdebatan ini memacu debat positivisme dalam sosiologi Jerman. Habermas adalah tokoh yang berhasil mengintegrasikan metode analitis ke dalam pemikiran dialektis Teori Kritis.

Teori kritis adalah anak cabang pemikiran marxis dan sekaligus cabang marxisme yang paling jauh meninggalkan Karl Marx (Frankfurter Schule). Cara dan ciri pemikiran aliran Frankfurt disebut ciri teori kritik masyarakat “eine Kritische Theorie der Gesselschaft”. Teori ini mau mencoba memperbaharui dan merekonstruksi teori yang membebaskan manusia dari manipulasi teknokrasi modern. Ciri khas dari teori kritik masyarakat adalah bahwa teori tersebut bertitik tolak dari inspirasi pemikiran sosial Karl Marx, tapi juga sekaligus melampaui bangunan ideologis marxisme bahkan meninggalkan beberapa tema pokok Marx dan menghadapi masalah masyarakat industri maju secara baru dan kreatif. Pada intinya madzhab Frankfurt tidak puas atas teori Negara Marxian yang terlalu bertendensi determinisme ekonomi.

Determinisme ekonomi berasumsi bahwa perubahan akan terjadi apabila masalah ekonomi sudah stabil. Jadi basic strurtur (ekonomi) sangat menentukan supras truktur (politik, sosial, budaya, pendidikan dan seluruh dimensi kehidupan manusia). Kemudian mereka mengembangkan kritik terhadap masyarakat dan berbagai sistem pengetahuan. Teori  kritis tidak hanya menumpukkan analisisnya pada struktur sosial, tapi teori kritis juga memberikan perhatian pada kebudayaan masyarakat (culture society). Seluruh program teori kritis Madzhab Frankfurt dapat dikembalikan pada sebuah manifesto yang ditulis di dalam Zeischrift  tahun 1957 oleh Horkheimer. Dalam artikel tentang “Teori Tradisional dan teori Kritik” (Traditionelle und KritischeTheorie) ini, konsep “Teori kritis” pertama kalinya muncul. Tokoh utama teori kritis ini adalah Max Horkheimer (1895-1973), Theodor Wiesengrund Adorno (1903-1969) dan Herbert Marcuse (1898-1979) yang kemudian dilanjutkan oleh Generasi kedua mazhab Frankfurt yaitu Jurgen Habermas yang terkenal dengan teori komunikasinya.Diungkapkan Goerge Ritzer, secara ringkas teori kritis berfungsi untuk mengkritisi Teori Marxian yang deterministic yang menumpukan semua persoalan pada bidang ekonomi.

Pada awalnya, yang membedakan Teori Kritis dengan filsafat Heidegger atau filsafat analitika Ludwig Wittgenstein adalah Teori Kritis menjadi inspirasi dari gerakan sosial kemasyarakatan. Gerakan sosial ini dipelopori oleh kaum muda yang pada waktu itu secara historis telah tidak ingat lagi dengan masa kelaparan dan kedinginan pasca perang dunia II. Generasi muda tahun 1960-an telah merasa muak dengan kebudayaan yang menekankan pembangunan fisik dan menekankan faktor kesejahteraan ala kapitalisme. Generasi ini adalah generasi yang secara mendalam meragukan atau menyangsikan kekenyangan kapitalisme dan disorientasi nilai modern.

Yang merupakan ciri khas Teori Kritis adalah bahwa teori ini berbeda dengan pemikiran filsafat dan sosiologi tradisional. Pendekatan Teori Kritis tidak bersifat kontemplatif atau spektulatif murni. Teori Kritis pada titik tertentu memandang dirinya sebagai pewaris ajaran Karl Marx, sebagai teori yang menjadi emansipatoris. Teori Kritis tidak hanya mau menjelaskan, mempertimbangkan, merefleksikan dan menata realitas sosial tapi juga bahwa teori tersebut mau mengubah.

Teori Kritis tidak mau membebek Karl Marx. Kelemahan marxisme pada umumnya adalah mereka menjiplak analisa Marx dan menerapkannya mentah-mentah pada masyarakat modern. Oleh sebab itu, biasanya marxisme justru lebih terkesan dogmatis daripada ilmiah. Teori Kritis mengadakan analisa baru terhadap masyarakat yang dipahami sebagai “masyarakat kapitalis lanjut”. Yang direkonseptualisasi dalam pemikiran Teori Kritis adalah maksud dasar teori Karl Marx, yaitu pembebasan manusia dari segala belenggu penghisapan dan penindasan.

Pembebasan manusia dari segala belenggu penghisapan dan penindasan berangkat dari konsep kritik. Konsep kritik sendiri yang diambil oleh Teori Kritis berangkat dari 4 (empat sumber) kritik yang dikonseptualisasikan oleh Immanuel Kant, Hegel, Karl Marx dan Sigmund Freud. Kritik dalam pengertian pemikiran Kantian adalah kritik sebagai kegiatan menguji kesahihan klaim pengetahuan tanpa prasangka. Kritik dalam pengertian Hegel didefinisikan sebagai refleksi diri atas tekanan dan kontradiksi yang menghambat proses pembentukan diri-rasio dalam sejarah manusia. Kritik dalam pengertian Marxian berarti usaha untuk mengemansipasi diri dari alienasi atau keterasingan yang dihasilkan oeh hubungan kekuasaan dalam masyarakat. Kritik dalam pengertian Freudian adalah refleksi atas konflik psikis yang menghasilkan represi dan memanipulasi kesadaran. Adopsi Teori Kritis atas pemikiran Freudian yang sangat psikologistik dianggap sebagai pengkhianatan terhadap ortodoksi marxisme klasik.

Sejarah dan Asumsi-Asumsi Kunci

Filsafat Karl Marx dalam pemikiran para anggota Mazhab Frankfurt termasuk Habermas sampa-sampai ajaran mereka tidak jarang ditunjukkan dengan nama “neomarxisme” merupakan sekelompok pemikir sosial yang muncul dari lingkungan Institut für Sozialforschung Universitas Frankfurt. Para pemikir sosial Frankfurt ini membuat refleksi sosial kritis mengenai masyarakat pasca-industri dan konsep tentang rasionalitas yang ikut membentuk dan mempengaruhi tindakan masyarakat tersebut. Aliran Frankfurt dipelopori oleh Felix Weil pada tahun 1923. Perkembangan Teori Kritis semakin nyata, ketika aliran Frankfurt dipimpin oleh Max Horkheimer dan mempunyai anggota Friederick Pollock (ahli Ekonomi), Adorno (musikus, sastrawan dan psikolog), H. Marcuse (murid Heidegger yang fenomenolog), Erich Fromm (psikoanalis), Karl August Wittfogel (sinolog), Walter Benjamin (kritikus sastra) dan lainnya.

Cara berpikir aliran Frankfurt dapat dikatakan sebagai teori kritik masyarakat atau eine Kritische Theorie der Gesselschaft. Maksud teori ini adalah membebaskan manusia dari manipulasi teknokrasi modern. Khas pula apabila teori ini berinspirasi pada pemikiran dasar Karl Marx, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa inspirasi Teori Kritis banyak didialogkan dengan aliran-aliran besar filsafat – khususnya filsafat sosial pada waktu itu.

Sejak semula, Sekolah Frankfurt menjadikan pemikiran Marx sebagai titik tolak pemikiran sosialnya. Tapi yang perlu harus diingat adalah bahwa Sekolah Frankfurt tetap mengambil semangat dan alur dasar pemikiran filosofis idealisme Jerman, yang dimulai dari pemikiran kritisisme ideal Immanuel Kant sampai pada puncak pemikiran kritisisme historis dialektisnya Georg William Friederich Hegel. Dengan sangat cerdas, sebagian besar pemikir dalam sekolah Franfurt berdialog dengan Karl Marx, Hegel dan I. Kant.

Jadi dapat dikatakan bahwa pemikiran dialektis materialis ekonomi Karl Marx, pemikiran ideal rasional historis Hegel dan perspektif normatif subjek otonom Immanuel Kant bukan merupakan barang-barang yang asing dalam pemikiran Teori Kritis. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika Max Horkheimer menjabat direktur Sekolah Frankfurt, pelan-pelan ia memasukkan pemikiran psikoanalisa Sigmund Freud ke dalam pemikiran sosial Teori Kritis (meskipun dengan hal ini, pemikiran kritis menuai kritik tajam sebagai pengkhianatan terhadap orthodoxi marxisme).

Lalu, bagaimana empat inspirasi intelektualisme memberikan pendasaran asumtif di atas dengan pemikiran Teori Kritis ? Dapat dikatakan bahwa Teori Kritis mendasarkan inspirasi refleksi sosial kritisnya pada subjektivisme kritis Kant, dialektika Hegel, refleksi ekonomi politik Karl Marx dan kritik ideologi psikoanalisa Freud.

Pertama, Sekolah Frankfurt menghargai Immanuel Kant, karena Kant telah memberikan prioritas otonomi subjek dalam membentuk pengetahuannya. Dengan demikian, pengertian kritis dapat dikatakan sebagai pengembalian peran subjek dalam menentukan pengetahuan. Pengetahuan tidak ditentukan oleh objek tapi subjek yang menghasilkan pengetahuan tersebut. Manusia tidak perlu lagi memahami alam sebagai semata-mata alamiah, tapi alam dilihat sebagai kebudayaan, yaitu alam yang sudah dirasionalisasikan manusia.

Tapi masalahnya, Teori Kritis melihat bahwa Kant melupakan pengetahuan manusia yang bersifat historis. Pengetahuan harus terikat pada ruang dan waktu tertentu. Jika pengetahuan bebas dari seluruh kontekstualitas kesejarahannya maka pengetahuan akan bersifat abstrak dan kosong. Faktor ekstra rasio manusia tidak diperhitungkan oleh Kant, karena ketika faktor itu diperhatikan pada saat itu pula filsafat Kant menjadi inkonsisten. Rasionalitas Kant sangat bersifat formal. Formalitas pengetahuan Kant hanya sekedar menyentuh pada soal syarat kebenaran tapi meleset jauh dari soal isi kebenaran objektif. Hal inilah yang menyebabkan bahwa filsafat Kant tidak lagi mencukupi pemikiran teori kritis yang mau lebih mengeksplorasi aktivitas pengetahuan subjektif manusiawi. Itulah sebabnya juga, Teori Kritis mulai menengok pada pemikiran Idealisme Hegel sebagai suplemen teoritis yang dipakai sebagai cara menutupi kelemahan epistemologi kritisisme Kant.

Kedua, Kelemahan Kant yang dilihat oleh Teori Kritis adalah realisasi otonomi rasio manusia. Teori otonomi rasio manusia mengalami kemandegan. Konsistensi epistemologi Kant justru menempatkan rasio tetap subjektif tapi tidak serta merta objektif. Seharusnya, rasio harus semakin meneguhkan atau mengafirmasikan diri dalam bentuk Roh yang Sempurna. Teori Kritis lebih melihat dialektika Hegel sebagai usaha dimensi rasionalitas manusia yang menyejarah. Setidaknya ada empat unsur pemikiran dialektika yang diambil oleh Teori Kritis sebagai dasar pemikirannya. Keempat unsur itu adalah :

  1. Berpikir dalam totalitas (dialektis)
  2. Berpikir empiris-historis
  3. Berpikir dalam kesatuan teori dan
  4. Berpikir dalam realitas yang tengah dan terus bekerja (working reality).

Masalahnya, pemikiran kesadaran Roh Absolut dan prinsip berpikir dialektis juga tetap tidak begitu adekuat untuk mendukung rancang bangun pemikiran Teori Kritis. Hegel memang bisa merealisasikan pemikiran subjektif apriori Kant dan mendamaikan realitas – kesadaran, tapi asumsi Hegel mengenai kesadaran Roh Absolut justru membawa pemikiran rekonsiliatif Hegel ini hanya berlaku dalam pemahaman saja. Kompleksitas kesadaran dan realitas yang dirangkum dalam kesadaran Roh, tidak serta merta mengakibatkan realitas konkret Roh itu sendiri. Teori Kritis justru melihat bahwa filsafat Hegel bersifat transfiguratif belaka. Dalam filsafat Hegel, penderitaan-penindasan-dominasi telah diabstraksikan pada tingkat yang lebih tinggi. Abstraksi ini membuat problematika manusia hanya dipahami atau dilampaui (aufheben). Padahal, problematika manusia justru tetap tinggal menjadi kenyataan dan tetap ada. Hal ini yang tidak bisa dijelaskan secara memadai oleh Hegel. Oleh sebab itu, Teori Kritis mencoba mengeksplorasi pemikiran Karl Marx dalam usaha menjelaskan dan merefleksikan kenyataan sosial dan sejarah manusia.

Ketiga, kemacetan pemikiran Hegel atas kesadaran teoritis dengan praksis sosial menjadi sebab utama Teori Kritis mulai meninjau pemikiran filsafat sosial Karl Marx. Teori Kritis berinspirasi pada kekuatan materialisme dialektis ekonomi politik Karl Marx yang mencoba untuk membangun sikap kritis bahwa kesadaran harus bersifat mengubah realitas sosial. Dari inspirasi kritik kapitalisme Marx dalam bukunya yang berjudul “Das Kapital”, Teori Kritis menurunkan makna kritik dalam pengertian emansipatorik. Pada dasarnya, proyek emansipasi sosial Marx lebih ingin menyatakan bahwa filsafat tidak hanya merefleksikan kerangka determinisme ekonomi tapi juga membuka kerangka kekuatan untuk melakukan pembebasan manusia dan penindasan dengan memanfaatkan determinisme ekonomis.

Teori Kritis mengambil pengertian emansipatoris sebagai proyek utama seluruh teori dari Sekolah Frankfurt. Tentu saja pengertian kritik dalam perspektif Marx adalah pengertian kritik yang selalu mengarah pada tindakan praksis. Maka pembebasan yang diproyekkan oleh Teori Kritis lebih merupakan pendasaran pembebasan dan pemerdekaan dalam seluruh bidang kehidupan manusia atas praksis kapitalistis. Persoalan menjadi muncul ketika hukum baja prediksi Karl Marx justru meleset dalam situasi kapitalisme modern. Konteks sejarah pendirian Teori Kritis memperlihatkan bahwa era kapitalisme monopolis telah menggusur dengan sukses kapitalisme liberal. Prediksi Marx yang menyatakan bahwa kapitalisme mengalami kebangkrutan tidak terbukti. Kapitalisme justru dengan sukses mengalami “rekonfigurasi” sehingga kapitalisme bisa beradaptasi dengan situasi modern.

Hal tersebut menjadikan Teori Kritis menyatakan bahwa ternyata faktor utama perubahan sosial tidak terletak pada faktor ekonomi saja, tetapi ada faktor-faktor lain, seperti politik – sosiologi dan kebudayaan yang turut juga mempengaruhi dinamika sosial masyarakat dan individu. Adagium ini semakin diperkuat dengan realitas sosial modern yang sangat bersifat teknologistik. Dengan demikian, kembali lagi permasalahannya terletak pada konsep rasio manusia. Teori Kritis melihat bahwa konsep rasio manusia modern justru sangat bersifat instrumental. Segi instrumentalisasi rasio manusia dilihat sampai pada pengaruh atas isi individu yang paling dalam, yaitu kesadaran psikis manusia. Fenomena psikologi manusia yang berkaitan dengan dinamika kemasyarakatan menjadikan pemikiran Marx tidak cukup untuk menjelaskan fenomena kapitalisme modern yang semakin kompleks.

Keempat, Teori kritis mencoba untuk melihat pemikiran psikoanalisa Sigmund Freud untuk memberikan kontribusi pemikiran tentang energi psikologi atas seluruh proses sosial manusia. Pemikiran Freud semakin signifikan untuk dipakai Teori Kritis ketika refleksi Marx juga menyangkut soal ideologi. Dalam praksis masyarakat modern, makna ideologi sebagai beragam. Tapi yang menjadi jelas adalah bahwa ideologi menyangkut dan mempengaruhi cara berpikir manusia. Namun kritik ideologi Marx kurang memberikan alasan secara persis mengapa kesadaran langsung ditentukan oleh kenyataan (Fromm, 1974). Ini berarti ada “sesuatu yang hilang” pada ruang bangunan atas yang sarat ideologi dengan basis yang bersifat sosio-ekonomis dalam pengertian Karl Marx.

Teori Kritis melihat bahwa psikoanalisa cukup memberikan penjelasan yang memadai dalam melihat missing link antara bangunan atas dan basis-nya Karl Marx. Sekolah Frankfurt melihat integrasi antara Freud dan Marx tentang naluri psikologis yang terangkum dalam usaha rasionalisasi sosial bisa menjelaskan proses ideologisme dalam seorang individual – dalam tataran mikro – dan masyarakat – dalam tataran makro sosial kolektif. Latar pengaruh pemikiran Freud dalam karya Teori Kritis terlihat dalam penyelidikan empirik Teori Kritis “ Studien über Autorität und Famili” (Sindhunata, 1983).

Setelah mengetahui beberapa asumsi dasar dalam Teori Kritis, maka sebetulnya ada beberapa sasaran yang menjadi proyek utama Teori Kritis pada seluruh bangunan teori dan filsafatnya. Aliran Frankfurt ingin memperjelas secara rasional struktur yang dimiliki oleh masyarakat pasca industri dan melihat akibat-akibat struktur tersebut dalam kehidupan manusia dan dalam kebudayaan. Teori Kritis ingin menjelaskan hubungan manusia dengan bertolak dari pemahaman rasio instrumental. Teori Kritis ingin membangun teori yang mengkritik struktur dan konfigurasi masyarakat aktual sebagai akibat dari suatu pemahaman yang keliru tentang rasionalitas.

Sasaran atau objek kritik rasionalitas ini melandaskan pemikiran rasionalitas pada masa pencerahan. Rasionalitas pada masa pencerahan adalah rasionalitas yang membebaskan manusia dari keterbatasan manusia atas cengkeraman alam dan pengembangan tatanan sosial yang melaksanakan kebebasan dan keadilan. Sasaran pencerahan rasionalitas adalah pembebasan manusia atas perbudakan alam dan manusia dikembalikan sebagai tuan atas alam serta dirinya sendiri. Teori Kritis melihat pencerahan sebagai proses dialektika, masalahnya adalah Aufklarung yang sesungguhnya tidak berhasil menghilangkan mitos. Pada titik tertentu, Aufklarung malah menjadi mitos. Dalam Era Pencerahan, mitos menjadi rasional. Mitos mengandung representasi dari yang Illahi. Aufklarung mewarisi pendapat Francis Bacon tentang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus bersifat operasional. Sikap tersebut akhirnya diteruskan oleh positivisme dan pragmatisme yang tidak percaya akan kebenaran dalam dirinya sendiri. Kebenaran disebut kebenaran apabila terjadi eksperimentasi. Operasionalisasi ilmu pengetahuan justru menjadi tujuan pada dirinya sendiri (Horkheimer, 1973 selanjutnya buku Dialectics of Enlightment (selanjutnya akan disebut DoE).

Selain bahwa pencerahan mengalami kegagalan maka kritik yang lain dari Teori Kritis adalah kritik terhadap masyarakat. Kritik masyarakat modern pasca industri adalah kritik bahwa masyarakat mengalami satu dimensi (Marcuse, One Dimensional Man, 1964 selanjutnya buku Marcuse akan disebut ODM). Hal ini tampak dalam aspek sehari-hari, ilmu pengetahuan, seni, filsafat, sistem politik dan lainya. Dalam masyarakat modern, baik manusia maupun realitas, direduksi menjadi sesuatu yang sangat fungsional, terlepas dari otonomi. Manusia modern kehilangan prinsip kritis. Konsep kritis dan kebenaran harus dikembalikan pada tataran normatif, mengatasi taraf empirisme dan formalitas logika Aristotelian. Kebenaran normatif bersifat dialektis dan emansipatorik.

Kesimpulan

Ideologi modernitas lebih melihat bahwa kemajuan tidak terelakkan. Manusia bergerak maju tanpa pernah ada kata mundur. Linearitas perkembangan ini menandakan dinamika linear kebudayaan manusia. Manusia adalah penguasa alam. Manusia adalah pencipta teknologi. Segala daya upaya dilakukan untuk mendapatkan situasi macam itu. Pandangan manusia satu dimensi ini lebih banyak direfleksikan oleh Herbert Marcuse. Menurutnya, masyarakat modern adalah masyarakat yang tidak sehat. Masyarakat satu dimensi bersifat represif dan totaliter. Artinya manusia modern tidak bisa lepas dari penguasaan kapitalisme dan peraturan logika kapitalistik. Keterasingan manusia dalam kemajuan teknologi sudah dimulai ketika manusia berorientasi pada teknologi itu sendiri. Keterasingan manusia dikaitkan dengan proses industrialisasi yang semakin menempatkan kerja manusia tidak dihargai. Kerja bukan dilihat sebagai ekspresi kemanusiaan tapi justru diubah menjadi komoditas kapitalistik belaka.

Menurut Marx, ideologi itu adalah ilusi atau kesadaran yang palsu. Ideologi tidak menggambarkan situasi nyata mnusia secara apa adanya. Ideologi menggambarkan kenyataan yang terdistorsi. Bukan artinya bahwa ideologi keliru menggambarkan kenyataan, tapi bahwa ideologi menggambarkan kenyataan dan interpretasi yang dibalik. Apa yang tidak baik dan tidak wajar dikatakan dan diusahakan sedemikian rupa sehingga tampak baik dan wajar.

Teori kritikal melihat bahawa media tidak lepas kepentingan terutama sarat kepentingan kaum pemilikan modal, negara atau kumpulan yang menindas lainnya. Dalam erti lain, media menjadi alat dominasi dan hegemoni masyarakat. Teori kritikal ini merupakan teori pembaikan daripada teori terdahulu dan masih digunakan sehingga kini. Teori ini menggunakan pelbagai pendekatan yaitu melalui pengalaman, sejarah lalu dan persekitaran sosial. Namun teori ini masih tidak mengenepikan kajian empirikal untuk mengatasi kelemahan yang tersirat dalam penyelidikan ini.

Referensi

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/

[2] http://google.co.id/

[3] http://blogspot.com/

[4] Hardiman, Budi Francisco, 1990. Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan

Kepentingan. Yogyakarta:Kanisius

[5] Magnis-Suseno, Franz. 1992. Filsafat sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta:Kanisius

Kawin Kontrak Sebagai Solusi Tepat? hayooo….

May 23, 2009 by ichwann

Disuatu hari,,ya hari ini lah,,,,gw menemuakan sebuah artikel yang mungkin udah gak asing lagi pada jaman kek skarang ini yaitu tentang kawin kontrak, malahan udah difilemin sampe 2 sesi pulak,,hahaha,,,,
begitulah pikiran para remaja yang belom mengenal arti nikah dan masih memiliki hasrat yang menggebu-gebu….

artikel nya kek gini…

“Di masa sekarang yang serba modern dan global ini banyak memunculkan masalah sosial yang kompleks, sepertinya tidak ada hari tanpa masalah. Semua tingkah laku yang bertentanngan dengan norma-norma yang berlaku dimasyarakat, terutama norma agama dan budaya sudah dianggap lazim, seakan-akan mereka sudah meninggalkan adab ke-timur-an mereka dan mengganti denan budaya barat yang sekuler. Misalnya anak muda sekarang lebih senang memakai pakaian yang mini, dimana orang lain dapat melihat lekuk tubuh orang yang memakai baju tersebut. Sehingga menimbulkan hasrat biologis orang yang melihatnya.jadi tidak heran kalau sekarang ini banyak kasus pemerkosaan dan pencabulan. Selain itu pergaulan jaman sekarang sangatlah bebas. Sehingga jika kita salah bergaul kita bisa terjerumus kedalam lingkaran setan. Tragisnya yang banyak melakukan hal ini adalah generasi muda. Yang mana mereka adalah generasi penerus bangsa.kalau sudah begini bagaimana bangsa Indonesia bisa beradab.
Dengan kebudayaan westernisasi dan pergaulan yang sangat bebas seperti saat ini banyak sekali kasus perzinahan. Pada decade terakhir ini saja, masalah perzinahan di kalangan mahasiswa sangatlah merajalela. Banyaknya mahasiswa yang terjerumus dalam perzinahan di kalangan kampus adalah suatu fenomena yang terjadi di berbagai universitas. Hal itu seakan sudah menjadi sesuatu yang sudah tidak asing lagi bagi kita.Bahkan sekarang ini sulit bagi kita untuk mencari mahasiswa yang masih perjaka dan perawan. Karena sebagian besar mahasiswa sudah kehilangan keperawanan ataupun keperjakaanya ketika mereka masih kuliah. Maka sikap seperti suami istri di kalangan mahasiswa sudah biasa dan lazim dilakukan.
hubungan seperti suami istri di kalangan mahasiswa sepertinya sudah menjadi hal yang biasa dan menjadi kegiatan rutin mereka. Pelaku merasa bahwa hal yang telah dilakukannya seakan tidak ada kaitanya dengan dosa faktor utamanya adalah banyaknya tempat kost dan kontrakan yang tidak ada ibu kost atau dengan kata lain kost-kostan bebas, hal inilah yang membuat mahasiswa dan mahasiswi seakan merasa bebas karena tidak ada yang menjaganya. Dan kebebasan itu banyak yang di salahgunakan oleh mahasiswa maupun mahasiswi untuk membawa pasangan mereka ke tempat kostnya.karena tidak ada yang manjaganya maka kesempatan untuk berbuat mesum sangatlah besar. Atau bahasa kerennya sekarang adalah sex in the cost.
Oleh karena itu, untuk mencegah perzinahan di kalangan mahasiswa maka solusinya adalah dengan kawin kontrak. Karena setidaknya dengan kawin kontrak mereka dapat mencegah perzinahan. Yang sekarang ini semakin marak dan populer dikalangan mahasiswa. Mungkin mahasiswa tersebut dapat kawin kontrak hanya pada massa perkuliahan saja. Setelah lulusdari kuliah terserah mereka bercerai atau melanjutkan perkawinan tersebut.
Kawin kontrak dikalanan mahasiswa sudah banyak dilakukan di kota pelejar Jogja. Kawin kontrak juga didukung oleh beberapa golongan, yaitu kaum syiah dengan dasar HR. Abu Abas dari kitab mizan kubro juz 2 nomer 39 karya Abdul Wahab Bin Ahmad Bin Ali Ansori. Hadis tentang diperbolehkan kawin kontrak juga diriwayatkan oleh HR.Jbr Bin Abdulah dan Salamah Bin Al Uku’, dari kitab soheh muslim juz 1 halaman 585 karya Muslim. Dan yang masih mengenakan kawin kontrak adalah Zufa Al Hanafi.”

—————————–

ya begitulah pemikiran yang ada dimasyarakat sekarang
ada bahaya dana ada gaknya juga nih artikel tergantung dari mana kita ngeliatnya
bagi mahasiswa yang gag tau apa-apa dalam arti sebenarnya mungkin kalo diceritain seperti ini akan tertanam dalam benaknya kalo kawin kontrak boleh-boleh aja dari pada zinah ya gag???

emang kontroversi sih,,,tinggal gimana kalian aja ngebacanya kek gimana yang pasti kalian juga punya pemikiran sendiri,,,,klo gitu udahan ajah ahh,,,biar pada mikir,,,hahahah,,,,

PENGUKUR KECEPATAN MENGGUNAKAN SENSOR INFRARED DAN TEGANGAN dg ADC (Bab 1 & 2)

March 20, 2009 by ichwann

Abstraksi

Di jalan raya, terutama di jalan tol, kita melihat batas maksimal kecepatan. Namun, polantas kita tidak dilengkapi dengan perangkat pengukur kecepatan. Bagaimana mungkin aturan ini bisa ditegakkan, sedangkan penegak hukum tidak bisa menyatakan pengendara mana yang melanggar batas kecepatan. Berawal dari keinginan membantu polantas menegakkan hukum, kami berinisiatif membuat perangkat pengukur kecepatan sekaligus sebagai tugas mata kuliah EL2006 Pengukuran dan Instrumentasi.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dari zaman pra-sejarah, kemajuan teknologi selalu berawal dari teknologi militer. Dari yang rumit dan besar seperti rudal balistik, ketapel, dan kapal, sampai ke yang sederhana seperti tameng ataupun tombak. Hal ini terjadi sampai saat ini. Sebut saja Global Positioning System(GPS), radar, hidden camera, dan lain-lain. Semua teknolgi tersebut berawal dari penggunaan terbatas di kalangan militer. Dalam masalah keamanan, negara-negara maju telah menggunakan teknologi tersebut dalam memecahkan masalah kemasyarakatan. Dalam menangani masalah kriminalitas misalnya, Inggris dan beberapa negara maju lainnya telah memasang ratusan hingga ribuan kamera tersembunyi di seluruh kota London. Maka, tidak heran jika buronan, ataupun pelanggar ketertiban tertangkap dalam waktu singkat. Secara umum, teknologi kendali dan instrumentasi memegang peranan penting dalam penerapan teknologi ini. Lebih spesifik lagi, dalam masalah lalu lintas. Polisi lalu lintas di hampir setiap negara maju telah dilengkapi dengan teknologi instrumentasi untuk menunjang fungsinya. Salah satunya adalah pengukur kecepatan atau biasa disebut speed gun.
Di Indonesia, kemajuan teknologi militer hampir terbilang tidak ada jika
dibandingkan dengan negara maju ataupun negara berkembang lainnya. Padahal, kita
ketahui jumlah pelanggar lalu lintas sangat tinggi di Negara ini. Salah satu hambatannya
adalah perangkat hukum yang tidak tegas. Di jalan raya, terutama di jalan tol, kita melihat batas maksimal kecepatan, tapi polantas kita tidak dilengkapi dengan perangkat pengukur kecepatan. Bagaimana mungkin aturan ini bisa ditegakkan, sedangkan penegak hukum tidak bisa menyatakan pengendara mana yang melanggar batas kecepatan. Kami berusaha membuat alat pengukur kecepatan tersebut sebagai langkah awal pemecah kebuntuan teknologi militer tepat guna di Indonesia.

1.2 Tujuan
• Mendesain konfigurasi rangkaian sensor untuk mengukur kecepatan dan tegangan
dengan output berupa bilangan desimal pada layar LCD.
• Membuat pengolah data dengan menggunakan mikrokontroler yang nantinya akan
ditampilan dengan menggunakan layar LCD

1.3 Rumusan Masalah
• Perancangan rangkaian pengukur kecepatan dan tegangan agar sensor dapat
bekerja pada kondisi-kondisi tertentu.
• Penyesuaian antara sensor dan mikrokontroler agar dapat dikombinasikan.
• Penentuan ketelitian dari alat ukur dan rangenya.
• Pemrograman mikrokontroler untuk mengolah data dan menampilkan hasilnya
menggunakan LCD.

1.4 Sistematika Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN
BAB II DASAR TEORI
BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM.
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS SISTEM
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II

DASAR TEORI

2.1 Pengukur kecepatan benda bergerak

Kecepatan adalah perubahan posisi (perpindahan) suatu benda dibandingkan dengan waktu tempuh. sehingga dapat ditulis persamaan berikut:

V = Δx / Δt

Maka, yang dibutuhkan untuk mendapatkan nilai kecepatan adalah Δx dan Δt.

2.2 Pengukur Tegangan

Pada mikro AVR Atmega16 terdapat port-port yang dapat menerima besaran analog yang dapat diconvert kedalam besaran digital, yaitu ADC (Analog to Digital Converter). Port tersebut terdapat pada PORTA (PA.0 .. PA.7) yaitu ADC0..ADC7.

Tegangan yang dapat diukur memiliki referensi 5volt, jadi tegangan maksimal  yang dapat masuk kedalam chip hanya 5volt. Pada ADC, tegangan analog dapat dikonversikan sebagai bit-bit dalam desimal dari 0 sampai 1023 atau sebesar 10 bit dengan tegangan referensi 5 volt. Jadi, satu bit dapat diwakili sekitar 4.88mV dan ketika 10 bit terisi penuh dapat tercapai 5 volt.

Microcontroller

February 27, 2009 by ichwann

ATMEGA32